18 Dec 2010

Kenapa Tidak KITA Mulakan Dari Diri KITA ?

Masyarakat kita sekarang ni asyik sibuk kutuk orang ini dan kutuk orang itu. Kenapa tidak masing-masing saling memperbaiki diri sendiri dulu? Yang jiran saling mengumpat sesama jiran. Yang rakyat saling mengkritik dan tidak puas hati kepada pemimpinnya. Tapi, ramai pula yang berebut nak jadi pemimpin dan nak angkat pemimpin masing-masing. Tidak tahu ke betapa besarnya beban yang bakal dipikul? Pemimpin yang ada pun tidak mampu kita senangi, kita sudah sibuk nak angkat yang lain...

Tak sedar ke yang diri sendiri tu pun jauh dari agama dan banyak sangat yang tidak betulnya. Kenapa tidak kita melihat diri kita dulu? Kenapa tidak kita perbetulkan diri kita dahulu. Carilah titik persefahaman tu bermula dari diri sendiri dulu. Jangan asyik tuding jari ke arah orang lain saja. Dalam tidak sedar, kita pun turut membiarkan diri kita jahil sendiri.

Kalau cakap agama untuk mengkritik jadi nombor satu. Tapi bila disoal balik, sudah faham ke 30 juzuk Quran tu? Kitab tafsir mana yang pernah kita fahami? Sudah pernah belek ke kitab imam Bukhari dan Muslim? Masa tu lah baru tahu nak belajar menganga... Sendiri pun masih jahil, jangan sibuk nak salahkan orang lain. Orang lain pun lebih kurang sama macam kita. Sama-sama banyak yang tidak tahu. Jangan jadi umpama ayam sama itik bertelagah tidak ketahuan asal...

Mulakanlah mengkaji dan mempelajari. Banyak sangat sebenarnya yang kita tidak tahu, tapi kita ni kebanyakannya perasan macam banyak tahu. Bila dah banyak tahu dan tidak senang dengan orang, itu yang semua dari orang lain asyik nampak macam tak betul saja...

Kebanyakan kecelaruan yang timbul adalah sebenarnya bemula dari diri kita sendiri. Sebab perasan banyak sangat tahu dan menganggap orang lain tidak tahu macam yang kita tahu. Bila masing-masing perasan tahu, memang susah lah jadinya. Masing-masing nak ada di atas. Nak semua orang ikut cakap kita. Akhirnya, bertengkar tidak habis-habis. Masing-masing sebenarnya bodoh, tapi tidak reti untuk muhasabah...

Tapi, bagi orang yang memang betul-betul tahu... Dia lebih suka duduk diam, tunggu dan lihat. Bertindak dengan pengetahuan yang sebenar. Segala cadangan dan tindakan yang bakal diambil dikaji dan dianalisa dengan teliti terlebih dahulu. Segala fakta dan bukti, diselidiki satu demi satu. Segala kajian memiliki sumber dan fakta yang betul. Kesannya difahami dan dikenal pasti terlebih dahulu. Akhirnya, tindakan berlangsung dengan penuh kemantapan, kecekapan dan hujjah.

Bukan main lepas cakap, buat hentam keromo, dan kesannya sering menyusahkan orang lain... Akhirnya diri sendiri juga yang pening.

Fahamilah bahawa sebuah masyarakat yang baik itu terbina dari perkumpulan banyak individu. Seseorang individu memainkan fungsi yang sangat utama dalam sesebuah kelompok keluarga. Gabungan banyak buah keluarga akhirnya membina sebuah komuniti dan seterusnya sebuah masyarakat. Kelompok masyarakat akhirnya membina sebuah negara dan kesatuan yang lebih besar. Oleh itu, periksalah diri kita yang merupakan seorang individu yang mengisi sebuah masyarakat. Kerana, sebuah masyarakat itu baik buruknya bermula dari diri kita dan keluarga kita...

Oleh itu, mulakanlah melihat diri. Tambahkan info dan input dengan fakta dan bukti. Jangan cepat melenting. Jadilah manusia yang mampu bertenang dan bersikap rasional dengan segala persediaan yang mencukupi. Jagalah diri, jagalah keluarga, hiasi peribadi dan perbaikilah masyarakat dengan sikap kita yang berakhlak, sabar, dan menawan.

Bangsa itu Melayu, agama itu Islam...
Mulakanlah belajar agama dengan jujur...
.............................................................................
renung-renungkanlah .......
Dalam penghidupan, pelbagai pengisian akan datang dan memasuki diri kita, apa yang pasti, jadikanlah kebaikan sebagai teladan dan yang buruk sebagai sempadan, Sesungguhnya segala kebaikan adalah dari Allah dan segala kelemahan adalah atas kekurangan diri saya sendiri, maafkan saya, buka pintu hati, kita pasti akan memahami, terima kasih
 

Kawan, hormatilah yang sedia ada

Kita ada ramai kenalan..ramai kawan..... tapi masih terasa seolah2 belum menjumpai yang benar2 serasi..sehati sejiwa....
pernah tak kita terasa seolah2 mencari2..?? 

mencari seseorg yang mengerti tentang kita....
mencari seseorang yang mempunyai jiwa yang sama..
pemikiran yang sama....cita2 yang sama...hala tuju yang sama...
dengan kita ?

mencari seseorang yang bisa menemani kita, bersama kita dalam apa jua keadaan...
mencari seseorag yang bisa meyejukkan dikala kita keresahan,
mencari seseorang yang menunjukkan jalan dikala kita kebuntuan..
mencari seseorang yang memimpin tangan dikala kita lemah...
mencari seseorang yang membisikan kata semangat dikala kita sdg melangkah..
mencari seseorang yang rela mengukirkan senyuman indah dikala kita kesedihan..
mencari seseorang yang turut mengangkat tangan syukur dan sujud bersama dikala kita dalam kebahagian...

hmm.. xjumpa lagi ?? .............

amatlah beruntung, jika orang seperti itu yang kita temui....dia lah teman, dialah sahabat, dialah kawan........seseuatu yang terbaik..

tetapi...semua yang tertulis diatas adalah keinginan yang ada pada semua orang, termasuk saya.. kita perlu ingat..

dalam dunia ini tidak ada manusia yang sempurna...
jangan kita terlalu mengejar kesempurnaan terhadap teman-teman kita, sahabat2 kita, kawan2 kita,...

yakinlah,sebenarnya mereka sudah cuba untuk berikan yang terbaik buat kita..... hargailah mereka......hargai orang disekeliling kita....memang sukar untuk mencari yang benar2 terbaik..

KERANA DIA YANG MAHA ESA ADALAH YANG MAHA TERBAIK..
TUHAN SEKALIAN ALAM...
SUBHANALLAH, ALHAMDULILLAH, ALLAHUAKBAR.....

bersyukur dengan kawan-kawan disekeliling kite..itu yang terbaik!!!..
.............................................................................
renung-renungkanlah .......
Dalam penghidupan, pelbagai pengisian akan datang dan memasuki diri kita, apa yang pasti, jadikanlah kebaikan sebagai teladan dan yang buruk sebagai sempadan, Sesungguhnya segala kebaikan adalah dari Allah dan segala kelemahan adalah atas kekurangan diri saya sendiri, maafkan saya, buka pintu hati, kita pasti akan memahami, terima kasih

17 Dec 2010

8 Pembohongan seorang ibu dalam hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan membuat manusia terperuk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.


PERTAMA  - Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar"

KEDUA  - Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pe rtumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"

KETIGA -  Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah,demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, aku tidak penat"

KEEMPAT  - Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!"

KELIMA - Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta"

KEENAM -  Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit wang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima wang tersebut. Malahan mengirim balik wang tersebut. Ibu berkata : "Saya ada duit"

KETUJUH  - Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta.Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : "Aku tak biasa tinggal negara orang"

KELAPAN - Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus,harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan"

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu..!" Cuba dipikir-pikir teman,
  • Sudah berapa lamakah kita tidak menelefon ayah ibu kita?
  • Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita?
 Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.

Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya,
  • kita selalu risau akan kabar pasangan kita,
  • risau apakah dia sudah makan atau belum,
  • risau apakah dia bahagia bila di samping kita.
Namun,
  • apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita?
  • Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum?
  • Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum?
Apakah ini benar?
Kalau ya, cuba kita renungkan kembali lagi... Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

.............................................................................
renung-renungkanlah .......
Dalam penghidupan, pelbagai pengisian akan datang dan memasuki diri kita, apa yang pasti, jadikanlah kebaikan sebagai teladan dan yang buruk sebagai sempadan, Sesungguhnya segala kebaikan adalah dari Allah dan segala kelemahan adalah atas kekurangan diri saya sendiri, maafkan saya, buka pintu hati, kita pasti akan memahami, terima kasih
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...